Kisah Pengusaha Laundry, Hampir Bangkrut Kini Kembali Berjaya
Banyak yang bertanya, bagaimana
ceritanya kami sampai berakhir dengan utang melilit di 2014-2016. Ada juga yang
bertanya apakah saya menyesal berutang. Untuk pertanyaan yang terakhir
jawabannya TIDAK sama sekali. Justru ketika itu, kami dihadapkan pada dua
keputusan: tutup atau utang. Seandainya waktu itu saya tidak menarik utang,
saya tentu sudah tidak jadi pengusaha laundry lagi sekarang.
Sebelum saya lebih lanjut, mohon
maaf jika mungkin tulisan saya akan berbeda pandangan dengan mereka yang anti
utang dengan alasan apapun. Bagi saya dua hal itu adalah pilihan. Dan menjadi
pengusaha adalah sebuah pekerjaan yang penuh dengan pilihan sulit.
Sejak 2010 saya membuka laundry
pertama kali saya tahu persis pengusaha pemula seperti saya akan sangat
kesulitan mendapatkan akses utang. Sangat berbeda dengan sekarang dimana semua
bank pemerintah menawarkan KUR yang bahkan di BRI tersedia tanpa agunan dengan
bunga yang jauh lebih murah daripada KTA.
Untuk mengatasi itu, saya
meng-apply kartu kredit. Kartu kredit pertama saya dari BCA. Awalnya limitnya
cuma 3 juta. Tapi kemudian saya jaga performa pembayaran saya. Lalu setiap ke
mall-mall, jika ada yang menawarkan kartu kredit, saya pasti ambil. Satu per
satu limit kartu kredit pun bertambah dan jumlahnya bertambah sehingga
akumulasi dari semua limitnya itu bisa dikatakan sudah cukup besar di 2014.
Di bisnis laundry, hampir semua
peralatan kita tersedia di toko-toko ritel elektronik, sehingga dengan kartu
kredit kita bisa membeli mesin-mesin dengan bunga 0%. Betul-betul 0%. Klo harga
mesin 6juta, ya bayar saja 500rbx12. Nah kartu kredit ini bisa jadi alat bayar
yang sangat memudahkan pengusaha laundry.
Waktu masih pengguna pemula kartu
kredit, saya termasuk yang sangat mudah menggesek kiri dan kanan membeli barang
sampai2 seluruh alokasi gaji saya di laundry bisa habis untuk bayar kartu
kredit. Belum lagi bayar makan kiri kanan dengan alasan networking atau
meningkatkan bonding dengan karyawan.
Tapi tidak seperti beberapa orang
yang mungkin kapok dan memutuskan untuk menutup kartu kreditnya, saya
memutuskan bahwa yang harus berubah adalah saya. Masalahnya ada pada saya,
bukan pada kartu kreditnya, dan mulailah saya mengelola keuangan dengan lebih
baik.
Secara teori, utang memiliki efek
yang dinamakan leveraging. Contoh, jika saya memiliki uang 10juta, saya bisa
membeli barang dengan seharga 10juta dan menjualnya dengan keuntungan 20% atau
12 juta. Maka saya memiliki untung 2juta. Tetapi jika saya punya 10juta dan
saya jadikan itu DP untuk membeli barang seharga 50juta secara kredit (jadi
kredit saya 40juta), maka dengan untung 20% saya bisa menjual barang tersebut
seharga 60juta.
Dari 60 juta tersebut, 40 juta
saya pakai untuk membayar utang, 2 juta saya pakai untuk membayar bunga sebesar
(katakanlah) 5% dan 10 juta untuk mengembalikan modal saya. Maka total
keuntungan saya adalah 8juta.
Efek ini yang dinamakan
leveraging. Dengan modal yang sama, saya bisa mendapatkan keuntungan yang jauh
lebih besar jika menggunakan utang. Utang yang begini ini dinamakan UTANG
PRODUKTIF, yaitu utang yang bisa menghasilkan tambahan uang.
Sangat berbeda dengan UTANG
KONSUMTIF yaitu utang yang tidak menghasilkan tambahan uang. Contoh, jika Anda
sekarang memiliki motor bebek dan menggantinya dengan motor sport secara
kredit. Jika motor sport tersebut Anda gunakan hanya untuk ke laundry, ketemu
teman dan lain-lain yang intinya dengan rute yang sama dengan ketika menggunakan
motor bebek, maka kredit Anda menjadi bersifat KONSUMTIF bukan produktif.
Naaahh!! Sekarang yang menjadi
masalah adalah, apakah keputusan mengutang itu benar-benar produktif? Dalam
contoh kasus di atas, apakah barang yang kita beli dengan harga 50juta itu
bakal laku semua terjual dengan untuk 20%? Pertanyaan inilah yang kami hadapi
ketika memutuskan mengambil utang atau tidak.
Pertanyaannya, apa sih masalah
yang terjadi waktu itu? Selama 2013, kami harus mengakui bahwa manajemen kami
gemuk (terlalu banyak orang), tidak produktif dan tidak terukur kinerjanya.
Keadaan ini sebenarnya tidak akan menjadi masalah seandainya ketika itu tidak
terjadi faktor dari luar yang menyerang bisnis kami di waktu yang hampir
bersamaan,
Ketika itu, omzet dari linen hotel
kami mencapai 40% dari total seluruh omzet kami. Dan pada saat 2014 awal,
listrik PLN di tempat kami naik turun voltasenya, menyebabkan mesin cuci
terbesar kami yang dari Swedia itu rusak panel digitalnya. Karena yang rusak
panel digital, maka tidak ada cara untuk memperbaikinya selain mengirim spare
parts dari authorized distributor.
Sayangnya parts tersebut tidak
ready dan kebetulan sudah dalam perjalanan ke Indonesia. Namun di pelabuhan,
kontainernya masuk jalur merah menyebabkan barang kami tertahan kurang lebih 2
bulan. Pengiriman menggunakan pesawat pun sudah sempat diupayakan namun tidak
berhasil.
Alhasil kami terpaksa tidak dapat
melayani hotel tersebut secara maksimal dan jatah kami terpaksa diambil vendor
laundry lain di hotel tersebut. Lebih menyedihkannya, ketika mesin tersebut
sudah kembali beroperasi, kontrak di klien hotel terbesar kami sudah berakhir
dan mereka tidak mau memperpanjangnya.
Masalah lainnya, bukan cuma mesin
Swedia itu yang rusak akibat listrik PLN yang naik turun. Mesin-mesin kecil
kamipun rusak modulnya. Saya ingat di bulan itu kami harus memasang Voltage
Regulator untuk daya 20.000VA di workshop kami, dan mengganti kurang lebih 4
mesin cuci kecil kami.
Di bulan yang sama, omzet di
outlet kedua terbesar kami turun 70% dalam satu bulan. Hebatnya tidak ada
satupun manajemen yang sadar dengan keadaan tersebut sampai akhir bulan kita
menghitung setoran dari masing-masing outlet (ini bukti bahwa manajemen kami
tidak produktif).
Ternyata, jalan di depan toko
kami sedang dibeton, sehingga customer tidak dapat mengakses toko kami. Berbeda
dengan aspal yang bisa dikerja malam dan pagi sudah bisa dilalui, jalan beton
membuat akses jalan harus ditutup 1 jalur. Padahal jalannya sendiri cuma 2
jalur dari 2 arah berbeda. Gilanya, pemerintah tidak mengerjakannya 24 jam.
Hanya sekitar 12 jam saja dalam sehari.
Sementara biaya sewa tidak turun, gaji
karyawan tidak turun bahkan biaya logistik pun tidak turun.
Setelah outlet kedua terbesar
tersebut selesai, tentu omzet tidak langsung naik. Beberapa customer sudah
terbiasa dengan laundry baru mereka. Celakanya, kini jalan di depan workshop
kami yang juga dibeton. Padahal di workshop ini lah outlet terbesar kami
berada.
Singkat cerita, September 2014,
omzet total kami tinggal 50% dari omzet kami di September 2013. Bahkan tinggal
35% dari omzet tertinggi kami di tahun 2013. Tapi biaya tidak banyak berubah
karena terlalu banyak fixed cost seperti sewa, gaji karyawan dan lain-lain.
Belum lagi cicilan kami dari hutang terdahulu.
TUTUP ATAU SELAMATKAN DENGAN
UTANG?
Disinilah saya dihadapkan pada
dua pilihan: tutup laundry nya atau selamatkan dengan utang. Saya memutuskan
selamatkan dengan utang. Tetapi saya tidak mau membuat keputusan ini menjadi
keputusan emosional. Itu adalah kesalahan terbesar dalam berutang. Saya harus
memiliki dasar hitungan yang tepat untuk memutuskan ini. Di sisi lain, waktu
untuk mengambil keputusan tidak banyak dan karyawan saya di bagian kantor sudah
saya kembalikan semua ke pos operasional sehingga tidak ada yang bisa membantu
saya menyediakan data yang dibutuhkan.
Jujur, keputusan saya waktu itu
tidak benar-benar berdasarkan perhitungan yang teliti. Saya hanya menyusun
financial model di excel dan menghitung berapa kenaikan omzet yang paling
rasional setelah masalah jalanan tadi beres, berapa upaya marketing yang
dibutuhkan dan berapa kemampuan perusahaan membayar cicilan.
Hasilnya? Hitungan meleset!!
Omzet memang naik, tapi lebih lama dari perikaan sehingga keuntungan tidak
cukup untuk membayar cicilan. Solusinya? Tarik utang lagi untuk membayar
selisih cicilan! Gali lubang tutup lubang. Kuncinya disini adalah lubang yang
digali lebih kecil daripada lubang yang ditutup, maka situasi masih bisa
dikendalikan. Karena di kartu kredit, setiap kita melakukan pembayaran, maka
limitnya akan naik lagi sejumlah pembayaran kita. Kita hanya perlu menjaga
jangan sampai kualitas kredit turun karena tidak membayar cicilan.
Waktu berlalu dan sekali-sekali
kami menggali lubang lebih besar daripada yang kami tutup dan juga sebaliknya.
Hingga outstanding utang kami (total pokok ditambah bunga sampai lunas)
menyentuh angka M. Nilainya hampir sama besar dengan total aset kami. Artinya
rasio utang modal kami sudah mencapai hampir 1:1.
Di tengah krisis, kemampuan
akuntansi dan catatan keuangan saya menjadi sangat berguna. Hal ini juga yang
selalu saya tekankan ke mahasiswa saya mengenai pentingnya menguasai akuntansi.
Akuntansi mungkin "tidak terlalu berguna" untuk bisnis perorangan di
masa tenang. Tapi di masa krisis, akuntansi adalah mata dan telinga utama untuk
menyelesaikan masalah.
Jika akuntansi Anda tidak baik,
keputusan yang Anda buat hanya berdasarkan intuisi bukan data. Dan itu adalah
mimpi buruk terbesar dalam pengambilan keputusan. Saya percaya intuisi, namun
intuisi itu diasah dengan pembuktian menggunakan data.
Dengan bekal catatan inilah saya
meyakinkan investor bahwa saya memiliki 2 masalah utama di bisnis ini. Pertama,
bisnis ini secara operasional menguntungkan. Omzet dikurangi biaya operasional,
masih banyak sisanya. Tapi sisanya ini tidak cukup untuk bayar cicilan.
Artinya, jika utang ini bisa "ditalangi dulu", maka bisnis ini bisa
mengumpulkan uang lebih dan sisanya bisa dikumpulkan dan dibagikan untuk jangka
waktu lebih panjang. Ini disebut converting, mengubah utang menjadi modal.
Masalah kedua, kami kekurangan
modal kerja sehingga karyawan kami harus menunggu setoran untuk pembayaran
gaji. Gaji mereka dicicil 2x sebulan dan itupun dibayarkan telat. Ini sangat
merusak moral karyawan dan membuat perasaan tanggung jawab mereka terhadap pekerjaan
turun. Padahal bisnis laundry sangat bergantung pada manusia. Belum lagi kita
tidak bisa menindak karyawan yang tidak perform karena sangat sulit mencari
karyawan yang mau gajinya dicicil 2x sebulan.
Akhirnya investor kami setuju memberikan waktu 1 tahun menalangi cicilan kami dan mengubahnya menjadi modal yang bisa dibayarkan dalam bentuk bagi hasil dari laba bersih. Perlahan bisnis kami mulai naik, dan kami bisa terus menambah omzet dengan promosi yang TEPAT dan menambah outlet hingga 2x lipat dalam setahun.
Ada yang bertanya, bagaimana jika waktu itu investor tidak setuju menyuntik modal. Sebenarnya masih ada solusi terakhir sebelum tutup yaitu macetkan semua utang dan ajukan renegosiasi ke bank penerbit kartu kredit yang bersedia. Dengan demikian, semua omzet hanya dipakai untuk membayar biaya oeprasional. Tapi resikonya sangat besar dan reputasi saya di BI bisa rusak dan butuh waktu 5-10 tahun untuk memperbaikinya.
Di atas semuanya itu, tentu ini
semua adalah kemurahan dan kebesaran Tuhan yang merestui upaya kami untuk
mengendalikan perusahaan ini. Saya selalu percaya Tuhan tidak bekerja bagi
orang yang juga tidak memberikan usaha terbaiknya. Dan sepertinya, saya dan tim
sudah memberikan yang terbaik dan semuanya kami kembalikan kepada kehendak Yang
Maha Kuasa. Syukurnya Dia berkehendak untuk kami kembali di jalan yang naik...
mari gabung bersama kami di Aj0QQ*c0M
BalasHapusBONUS CASHBACK 0.3% setiap senin
BONUS REFERAL 20% seumur hidup.
Keren banget pak kegigihannya.. thanks for sharing. GBU
BalasHapus