Mulai Bisnis Laundry, Saya Bermodal Mesin Cuci Kredit
JURAGAN LAUNDRY – Tahun 2008 saya memulai bisnis laundry kiloan di bilangan Jalan Siliwangi- Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Memilih lokasi kampus karena berdasarkan perhitungan, di situlah terkonsentrasinya para mahasiswa, yang diperkirakan membutuhkan layanan cucian untuk pakainnya.
Terjun ke bisnis ini betul-betul gelap. Baik pengalaman maupun modal. Hanya berbekal pengetahuan mencuci pakaian sehari-hari di kosan, bisnis ini saya jalankan.
Saya tidak tahu bagimana memperlukan pakaian yang memperlukan perawatan khusus. Yang saya tahu, mencuci, keringkan lalu setrika, dipacking dan diantarkan jadilah uang.
Namun justeru berkat ketidaktahuan itu, rupanya bisnis laundry ini bisa saya jalankan. Bagaimana jadinya, kalau sebelum bisnis ini saya mengetahui seluk beluk secara mendalam tentang cuci mencuci. Saya yakin, say atidak bisa memulai karena ternyata bisnis laundry ini tak mudah.
Dalam praktiknya, bisnis laundry ini gampang-gampang susah. Gampanya, sekedar mencuci, apa bedanya dengan mencuci pakaian sendiri. Asal bersih, rapi wangi, jadilah uang. Namun di balik kemudahan secara teoritik itu, segudang tantangan yang identik dengan permasalahan, mesti atau wajib dihadapi para pebisnis apapun, termasuk pebisnis laundry kiloan.
Memulai usaha laundry pada saat itupuan betul-betul modal nekat. Kebetulan seorang teman yang baru menjalankan usaha laundry sekitar 3 bulan, mau pindah tempat tinggal. Sementara dia masih memiliki kontrakan yang dia gunakan sebagai tempat usaha laundry.
Ia sudah memiliki mesin cuci fort lauding, merek terkenal. Perlangkapan laundry seperti timbangan, setrika sudah punya. Kawan tersebutt menawarkan over kontrak, juga mau menjual perlengkapan laundrynya. Saya menerima sementara dengan harga yang telah disepakati. Namun belakangan, saya keberatan karena ternyata harga terlalu tinggi. Sementara kawan tersebut akan segera pindah ke kota asalnya.
Untuk tempat masih bisa saya gunakan. Dengan sisa timbangan, saya berfikir bagaimana meneruskan laundry yang telah dirintis seorang kawan tersebut. Sebelum mesin frot loadingnya dibawa, saya mempelajari cuci mencuci, kemudian berani menerima orderan. Setelah beberapa minggu berjalan mesin diambil oleh yang punya. Akhirnya saya mengkredit mesin cuci dua tabung sekedar bisa mencuci. Singkat cerita, dibantu adik, usaha laundry seadanya berjalan dengan perlengkapan yang msih sangat terbatas. Pelangganpun dibatasi, hanya tetangga kos yang sudah dikenal.
Betul-betul nekat. Saya belum mengerti soal bisnis laundry. Yang penting berjalan, nerima order dapat duit. Mengeringkan pakaianpun masih menggunakan panas matahari yang tentu saja kendala serius jika cuaca mendung hujan. Sementara pakaian pelanggan semakin banyak. Meski demikian saat itu saya belum berfikir memperbaharui teknologi mencucui atau mengeringkan. Pertama karena ketidaktahuan, kedua dari sisi modalpun memang gak cukup.
Beberapa bulan kemudian, saya menikah. Saya pindah rumah dan tinggal bersama isteri. Setelah ngontrak rumah sendiri, saya kembali membuka jasa laundry dibantu sang adik. Pelanggan masih banyak dari tempat laundry sebelumnya. Di tempat ini cucian masih terbatas yang dijemput, tidak ada yang datang.
Melihat terjadi perkembangan dalam usaha, saya nekat kredit mesin cuci frot loading, top loading juga mesin pengering pakaian (driyer). Tuntutan teradap produktifitas dan omzet bisnis laundry belum begitu kencang. Dari sisi kebutuhan, saya masih mengandalkan gaji dari tempat kerja. Sementara bisnis laundry hanya sampingan, meski telah mengeluarkan modal relatif besar dari membeli perlengkapan.
Beberapa bulan kemudian, saya memutuskan keluar dari pekerjaan. Saya fokus bisnis laundry serta bisnis lain seperti penjualan rekening listrik (payment pont). Modal yang saya keluarkan untuk kedua bisnis ini relatif besar bagi seorang pengusaha yang belum berpengalaman dalam mengelola uang.
Sata itu modal yang saya dapatkan berasal dari pinjaman lunak sebuah BUMN. Dari sinilah mulai muncul masalah serius....!!!!
Bersambung ke
Terjun ke bisnis ini betul-betul gelap. Baik pengalaman maupun modal. Hanya berbekal pengetahuan mencuci pakaian sehari-hari di kosan, bisnis ini saya jalankan.
Saya tidak tahu bagimana memperlukan pakaian yang memperlukan perawatan khusus. Yang saya tahu, mencuci, keringkan lalu setrika, dipacking dan diantarkan jadilah uang.
Namun justeru berkat ketidaktahuan itu, rupanya bisnis laundry ini bisa saya jalankan. Bagaimana jadinya, kalau sebelum bisnis ini saya mengetahui seluk beluk secara mendalam tentang cuci mencuci. Saya yakin, say atidak bisa memulai karena ternyata bisnis laundry ini tak mudah.
Dalam praktiknya, bisnis laundry ini gampang-gampang susah. Gampanya, sekedar mencuci, apa bedanya dengan mencuci pakaian sendiri. Asal bersih, rapi wangi, jadilah uang. Namun di balik kemudahan secara teoritik itu, segudang tantangan yang identik dengan permasalahan, mesti atau wajib dihadapi para pebisnis apapun, termasuk pebisnis laundry kiloan.
Memulai usaha laundry pada saat itupuan betul-betul modal nekat. Kebetulan seorang teman yang baru menjalankan usaha laundry sekitar 3 bulan, mau pindah tempat tinggal. Sementara dia masih memiliki kontrakan yang dia gunakan sebagai tempat usaha laundry.
Ia sudah memiliki mesin cuci fort lauding, merek terkenal. Perlangkapan laundry seperti timbangan, setrika sudah punya. Kawan tersebutt menawarkan over kontrak, juga mau menjual perlengkapan laundrynya. Saya menerima sementara dengan harga yang telah disepakati. Namun belakangan, saya keberatan karena ternyata harga terlalu tinggi. Sementara kawan tersebut akan segera pindah ke kota asalnya.
Untuk tempat masih bisa saya gunakan. Dengan sisa timbangan, saya berfikir bagaimana meneruskan laundry yang telah dirintis seorang kawan tersebut. Sebelum mesin frot loadingnya dibawa, saya mempelajari cuci mencuci, kemudian berani menerima orderan. Setelah beberapa minggu berjalan mesin diambil oleh yang punya. Akhirnya saya mengkredit mesin cuci dua tabung sekedar bisa mencuci. Singkat cerita, dibantu adik, usaha laundry seadanya berjalan dengan perlengkapan yang msih sangat terbatas. Pelangganpun dibatasi, hanya tetangga kos yang sudah dikenal.
Betul-betul nekat. Saya belum mengerti soal bisnis laundry. Yang penting berjalan, nerima order dapat duit. Mengeringkan pakaianpun masih menggunakan panas matahari yang tentu saja kendala serius jika cuaca mendung hujan. Sementara pakaian pelanggan semakin banyak. Meski demikian saat itu saya belum berfikir memperbaharui teknologi mencucui atau mengeringkan. Pertama karena ketidaktahuan, kedua dari sisi modalpun memang gak cukup.
Beberapa bulan kemudian, saya menikah. Saya pindah rumah dan tinggal bersama isteri. Setelah ngontrak rumah sendiri, saya kembali membuka jasa laundry dibantu sang adik. Pelanggan masih banyak dari tempat laundry sebelumnya. Di tempat ini cucian masih terbatas yang dijemput, tidak ada yang datang.
Melihat terjadi perkembangan dalam usaha, saya nekat kredit mesin cuci frot loading, top loading juga mesin pengering pakaian (driyer). Tuntutan teradap produktifitas dan omzet bisnis laundry belum begitu kencang. Dari sisi kebutuhan, saya masih mengandalkan gaji dari tempat kerja. Sementara bisnis laundry hanya sampingan, meski telah mengeluarkan modal relatif besar dari membeli perlengkapan.
Beberapa bulan kemudian, saya memutuskan keluar dari pekerjaan. Saya fokus bisnis laundry serta bisnis lain seperti penjualan rekening listrik (payment pont). Modal yang saya keluarkan untuk kedua bisnis ini relatif besar bagi seorang pengusaha yang belum berpengalaman dalam mengelola uang.
Sata itu modal yang saya dapatkan berasal dari pinjaman lunak sebuah BUMN. Dari sinilah mulai muncul masalah serius....!!!!
Bersambung ke
Halo, semuanya, tolong, saya dengan cepat ingin menggunakan media ini untuk membagikan kesaksian saya tentang bagaimana Tuhan mengarahkan saya kepada pemberi pinjaman yang benar-benar mengubah hidup saya dari kemiskinan menjadi wanita kaya dan sekarang saya memiliki kehidupan yang sehat tanpa stres dan kesulitan keuangan,
BalasHapusSetelah berbulan-bulan mencoba mendapatkan pinjaman di internet dan saya telah ditipu dari 400 juta, saya menjadi sangat putus asa dalam mendapatkan pinjaman dari kreditor online yang sah dalam kredit dan tidak akan menambah rasa sakit saya, jadi saya memutuskan untuk meminta saran kepada teman saya tentang bagaimana cara mendapatkan pinjaman online, kami membicarakannya dan kesimpulannya adalah tentang seorang wanita bernama Mrs. Maria yang adalah CEO Maria Loan. Perusahaan
Saya mengajukan sejumlah pinjaman (900 juta) dengan suku bunga rendah 2%, sehingga pinjaman yang disetujui mudah tanpa stres dan semua persiapan dilakukan dengan transfer kredit, karena fakta bahwa tidak memerlukan jaminan untuk transfer. pinjaman, saya hanya diminta untuk mendapatkan sertifikat perjanjian lisensi mereka untuk mentransfer kredit saya dan dalam waktu kurang dari dua jam uang pinjaman telah disetorkan ke rekening bank saya.
Saya pikir itu hanya lelucon sampai saya menerima telepon dari bank saya bahwa akun saya telah dikreditkan dengan jumlah 900 juta. Saya sangat senang bahwa akhirnya Tuhan menjawab doa saya dengan memerintahkan pemberi pinjaman saya dengan kredit saya yang sebenarnya, yang dapat memberikan hati saya harapan.
Terima kasih banyak kepada Ibu Maria karena telah membuat hidup saya adil, jadi saya menyarankan siapa pun yang tertarik mendapatkan pinjaman untuk menghubungi Ibu Maria dengan baik melalui E-mail (mariaalexander818@gmail.com) ATAU Via Whatsapp (+1 651-243 -8090) untuk informasi lebih lanjut tentang cara mendapatkan pinjaman Anda,
Jadi, terima kasih banyak telah meluangkan waktu Anda untuk membaca tentang kesuksesan saya dan saya berdoa agar Tuhan melakukan kehendak-Nya dalam hidup Anda. Nama saya adalah kabu layu, Anda dapat menghubungi saya untuk referensi lebih lanjut melalui email saya: (kabulayu18@gmail.com)
Terima kasih semua.